Kendala Utama Dalam Pengembangan Pengembangan Nuklir Di Indonesia

 


Disusun Oleh Thoriqsyah Ihsan Majid

 

Teknologi nuklir dinilai mampu memberikan output energi yang besar. Dengan teknologi nuklir, Indonesia sebetulnya mampu untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Lalu apa yang membuat PLTN ini belum juga terwujud?

Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia menimbulkan pro dan kontra. Perlu atau tidaknya PLTN di Indonesia memancing sejumlah pakar mendiskusikan hal itu di Yogyakarta. Indonesia mempunyai potensi yang cukup bagus untuk pengembangan nuklir ini, tetapi untuk menggunakan energi nuklir kita harus waspada karena radiasinya yang sangat berbahaya.

Tetapi jika mengetahui cara mengtasi bahwa nuklir saat ini dikesankan memiliki bahaya. “justru dari bahayanya itu, kalau kita mengetahui bagaimana menanganinya, justru manfaatnya ada di situ. Oleh karenanya risetnya itu disitu”

Selain untuk pemangkit listrik, teknologi nuklir bisa dimanfaatkan untuk bidang pertanian. Misalnya untuk menghasilkan varietas padi, kedelai, kacang hijau, gandung tropis hingga pisang. Lebih luas lagi, teknologi nuklir bisa dikembangkan untuk bidang kesehatan, menangani pasien kanker, terapi, dan diagnostik. Tidak hanya itu, teknologi nuklir juga bisa dimanfaatkan untuk bidang industri.  Menurutnya, saat ini nuklir masih dianggap sebagai sumber daya yang 'diakhirkan'. Ada resources lain yang didahulukan.

Padahal yang paling bagus adalah bagaimana mengoptimalkan resources yang ada, sehingga energi itu bisa dihasilkan tetapi kita juga tidak memanfaatkan satu segi energi saja. Salah Satu  Guru Besar Fakultas Teknik UI, Rinaldy Dalimy, tidak menampik di dalam Kebijakan Energi Nasional Pasal 11 Ayat 2 dan 3 terdapat pernyataan energi nuklir menjadi pilihan terakhir. Penempatan energi nuklir menjadi pilihan terakhir tentu bukan tanpa alasan.

Tapi disisi lain menggunakan energi nuklir ini membutuhkan biaya yang cukup mahal, bukan hanya biaya yang mahal tapi juga membutuhkan jangka waktu panjang sekitar 10 tahun untuk mengakomodasi proyek listrik nasional secara menyeluruh. Namun, pembangkit energi nuklir tersebut belum dikembangkan di negara ini.

Selain biaya, keputusan pembangunan PLTN membutuhkan pertimbangan dari berbagai aspek, kebijakan energi, keselamatan nuklir, penerimaan sosial, budaya, perubahan iklim dan perlindungan lingkungan,  di antaranya terkait biaya capital, biaya radioactive waste management dan decommissioning, serta biaya nuclear liability. , dalam studi bersama antara perseroan dengan perusahaan listrik luar negeri yang dilakukan tujuh tahun lalu, memproyeksikan bahwa biaya pembangunan PLTN mencapai USD1.700 sen/kW atau USD2.300 sen/kW. Adapun biaya tersebut dihitung berdasarkan biaya bunga pinjaman selama konstruksi. Angka itu masih terlalu rendah jika dibandingkan negara lain. Di negara lain angka pembangunannya jauh lebih tinggi

 

 

SARAN

Saran saya terhadap energi alternatif adalah harus lebih dikembangkan lagi dan di usahakan dapat cepat diterapkan pada masyarakat. Sehingga kita tidak bergantung lagi pada energi yg tidak dapat diperbaharui.

Komentar